BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Pendidikan adalah suatu proses
mengembangkan potensi manusia agar menjadi dewasa dan actual. Pendidikan
berfungsi untuk menyiapkan manusia agar mempunyai kemampuan atau modal yang
kelak akan berguna bagi kehidupannya, dan tujuan dari Pendidkan adalah untuk
membekali manusia yang masih belum mempunyai kemampuan agar kelak menjadi
manusia dewasa mempunyai kemampuan.
Pendidikan tersebut bersifat
universal, sehingga semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak tidak
terkecuali anak tunalaras. Pendidikan sangat penting untuk membekali ilmu
pengetahuan bagi anak tunalaras, karena dengan pendidikan suatu saat anak yang
mengalami gangguan emosi (anak tunalaras) diharapkan akan menjadi orang yang
bermanfaat dan mandiri saat dewasa, dalam artian dapat menjadi manusia yang
berakhlak mulia.
Namun pendidikan tidaklah cukup
bagi anak tunalaras untuk menunjang keberhasilan belajar, anak tunalaras
hendaknya tidak hanya diberikan layanan
pendidikan tetapi disertai juga terapi. Hal ini sangat pentinhg karena fungsi
terapi adalah untuk memperbaiki perilaku
bagi anak tuna laras. Berbagai terapi bagi anak tunalaras sangat banyak
dan salah satunya adalah Terapi tingkah laku (Behaviour Therapy) sehingga sangat penting bagi kita untuk
mengetahui terapi itu.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
Pengertian Anak Tunalaras?
2. Apa
Karakteristik Anak Tunalaras?
3. Apa
Metode Mengajar Untuk Anak Tunalaras?
C. TUJUAN
1. Mengetahui
Pengertian Anak Tunalaras
2. Mengetahui
Karakteristik Anak Tunalaras
3. Mengetahui
Metode Mengajar Untuk Anak Tunalaras.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
ANAK TUNALARAS
Istilah resmi “tunalaras” baru dikenal dalam dunia
Pendidikan Luar Biasa (PLB). Istilah tunalaras berasal dari kata “tuna” yang
berarti kurang dan “laras” berarti sesuai. Jadi, anak tunalaras berarti anak
yang bertingkah laku kurang sesuai dengan lingkungan. Perilakunya sering
bertentangan dengan norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat tempat ia
berada.
Penggunaan istilah tunalaras sangat bervariasi berdasarkan
sudut pandang tiap-tiap ahli yang menanganinya. Seperi halnya istilah, definisi
mengenai tunalaras juga beraneka ragam. Berbagai definsi yang diadaptasi oleh lynch dan lewis (1988)
adalah sebagai berikut.
1. Public
Law 94-242 (Undang-undang tentang PLB di Amerika Serikat) mengemukakan
pengertian tunalaras dengan istilah gangguan emosi.
2. Kauffman
(1977), mengemukakan bahwa penyandang tunalaras adalah anak yang secara kronis
dan mencolok beriteraksi dengan
lingkungannya dengan cara yang secara social tidak dapat diterima atau secara
pribadi tidak menyenangkan tetapi masih dapat diajar untuk bersikap yang secara
sosial dapat diterima dan secara pribadi menyenangkan.
3. Schamid
dan Mercer (1981), mengemukakan bahwa anak tunalaras adalah amnak yang secara
kondisi dan terus menerus menunjukkan penyimpangan tingkah laku tingkat berat
yang mempengaruhi proses belajar meskipun telah menerima layanan belajar serta
bimbingan seperti anak lain. Ketidakmampuan menjalin hubungan baik dengan orang
lain dan gangguan belajarnya tidak disebabkan oleh kelainan fissik, saraf atau,
inteligensia.
4. Nelson
(1981), Mengemukakan bahwa tingkah laku
seorang murid dikatakan menyimpang jika:
a. Menyimpang
dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap tidak normal menurut usia dan
jenis kelaminnya;
b. Penyimpangan
terjadi dengan frekuensi dan intensitas tinggi;
c. Penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relatif lama.
B. KARAKTERISTIK
ANAK TUNALARAS
Anak
tunalaras merupakan anak yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan
kontrol sosial. Bower (dalam Delphie, 2006, hlm. 17) mengemukakan bahwa anak
tunalaras atau emotionally handicapped
atau behavioral disorder adalah “anak
dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku”. Seorang anak terindikasi
tunalaras apabila menunjukkan satu atau lebih dari lima komponen berikut: (1)
tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori, atau
kesehatan; (2) tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan
guru; (3) bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya; (4) secara
umum selalu dalam keadaan tidak gembira atau depresi; dan (5) bertendensi ke
arah gangguan psikis, seperti merasa sakit atau ketakutan yang berkaitan dengan
orang atau permasalahan di sekolah.
Karakteristik anak tunalaras
menurut Moh. Amin (1991, hlm. 52-53), sebagai berikut:
1. Karakteristik akademik
Kelainan perilaku anak tunalaras mengakibatkan
penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibatnya, dalam belajar
memperlihatkan ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Hasil belajar di bawah rata-rata;
b. Sering berurusan dengan guru
Bimbingan dan Konseling (BK);
c. Tidak naik kelas;
d. Sering membolos; dan
e. Sering melakukan pelanggaran,
baik di sekolah maupun di masyarakat.
2. Karakteristik sosial
Karakteristik sosial anak tunalaras memperlihatkan
ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Berperilaku melanggar norma
budaya;
b. Berperilaku bersifat
mengganggu dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial;
c.
Berperilaku agresif, seperti tidak mengikuti aturan, bersifat menganggu,
bersifat membangkang, menentang, dan tidak dapat bekerjasama; dan
d. Melakukan tindakan yang
melanggar hukum dan kejahatan remaja.
3. Karakteristik emosional
Karakteristik emosional anak tunalaras
memperlihatkan ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Tekanan batin dan rasa cemas;
serta
b. Gelisah, rasa malu, rendah
diri, ketakutan, dan perasa/sensitif.
4. Karakteristik fisik/kesehatan
Pada anak tunalaras umumnya masalah fisik/kesehatan
yang dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan.
Umumnya mereka merasa ada yang tidak beres dengan jasmaninya, mudah mengalami
kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatan, seolah merasa selalu sakit, dan
sebagainya. Kelainan lain juga yang dapat terjadi, seperti gagap, buang air
tidak terkontrol, sering mengompol, dan lain-lain.
C.
METODE MENGAJAR UNTUK ANAK
TUNALARAS
Metode
pembelajaran bagi anak tunalaras adalah menggunakan metode pengajaran teacher
centered learning (TCL) dikarenakan butuh kontrol dari pengajar agar tidak
terjadi kecelakaan akibat keterbatasan atau kekurangan pengendalian emosi, atau
biasanya anak tunalaras selalu diberikan prinsip terapi permainan, prinsip yang
diberikan adalah prinsip kasih sayang karena anak tunalaras mempunyai
karakteristik emosional yang selalu meluap dan tidak stabil, jadi perlu sekali
pendekatan secara psikis dengan kasih sayang. Metode selanjutnya adalah metode
belajar kelompok, dikarenakan anak tunalaras mengalami gangguan sosial
emosional jadi sangat diperlukan metode belajar kelompok (diskusi) supaya anak bisa
mengembangkan rasa kebersamaan. Dan yang terakhir anak tunalaras biasanya
diberikan permainan yang menggunakan alat, metode ini dilakukan untuk melatih
motorik kasar pada anak dan motorik halus, misalynya : permainan sepak bola,
lempar lembing, permainan musik, mewarnai, menulis, dan seni lukis.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari penulisan
makalah diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa:
1. Istilah
resmi “tunalaras” baru dikenal dalam dunia Pendidikan Luar Biasa (PLB). Istilah
tunalaras berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” berarti
sesuai. Jadi, anak tunalaras berarti anak yang bertingkah laku kurang sesuai
dengan lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang
terdapat di dalam masyarakat tempat ia berada.
2.
Karakteristik anak tunalaras
menurut Moh. Amin (1991, hlm. 52-53), sebagai berikut: Karakteristik akademik,
sosial, emosional, dan fisik/kesehatan.
3. Metode
pembelajaran bagi anak tunalaras adalah menggunakan metode pengajaran teacher
centered learning (TCL) dikarenakan butuh kontrol dari pengajar agar tidak
terjadi kecelakaan akibat keterbatasan atau kekurangan pengendalian emosi, atau
biasanya anak tunalaras selalu diberikan prinsip terapi permainan.
B. SARAN
1. Orang
Tua
Orang tua harus
bias menjaga anaknya mulai dari masa hamil sampai melahirkan dan anak tumbuh
kembang. Orang tua juga harus memperhatikan anak dalam menjalani kehidupan
sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah taupun masyarakat agar anak
tidak mengalami prilaku yang menyimpang. Kalau seandainya anak sudah mengalami
gangguan perilaku sebaiknya anak dibawa ke psikolog atau ahli terapi.
2. Masyarakat
Agar masyarakat
bisa menerima kehadiran anak yang mengalami gangguan prilaku atau anak
tunalaras. Masyarakat harus bisa menghargai anak-anak tersebut, karena
anak-anak itu butuh pujian, dihargai dan sebagainya, dan mengikutsertakan dalam
sebuah kegiatan tanpa membedakan dengan anak normal yang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Wardani, IGAK [et.al]
deahandayani.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar